Rahman Tolleng, Gerakan Bawah Tanah dan Ideologi

Oleh: Rum Aly

          SUATU ketika, seusai mengakhiri masa jabatan sebagai Duta Besar RI di Kanada, saya bertemu Ekky Syahrudin di kediamannya di Jakarta. Itu hanya beberapa bulan sebelum Ekky Syahrudin meninggal dunia pada 28 Juni 2005. Aktivis pergerakan tahun 1966, yang kebetulan tokoh HMI ini,  saya temui  waktu mempersiapkan penulisan buku sejarah politik kontemporer yang melibatkan gerakan mahasiswa ‘Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966’. Semata-mata karena saya bertubuh agak tinggi dan kurus, Ekky spontan menyambut “Wah, Tan Malaka datang…” Memang Tan Malaka berperawakan agak tinggi dan kurus, terutama setelah menderita TB.

Sebutan Tan Malaka untuk saya, meski cuma guyonan karena model tubuh, kualitatif tentu saja jauh panggang dari api. Lalu Ekky menjelaskan mengenai sambutan spontannya dengan menyebut Tan Malaka. “Bung kan dulu dari koran yang memiliki gagasan-gagasan sosialistis”, separuh bercanda. “Anda menggantikan bung Rahman Tolleng, tokoh sosialis, sebagai pemimpin redaksi kan?” Ekky mengatakan kedatangan saya dari Bandung mengingatkannya kepada Rahman Tolleng, yang mendirikan Mingguan Mahasiswa Indonesia, Juni 1966. Jadi, sebenarnya yang terkilas di pikiran Ekky ketika menyebut Tan Malaka, adalah Rahman Tolleng yang oleh kawan dan lingkungan pergaulan politik serta kegiatan lain senantiasa disapa sebagai Bung Rahman. ‘Dikenal’ berpaham sosialis dan kerap diasosiasikan dengan Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Rahman Tolleng dan Tan Malaka

Pembicaraan awal siang itu segera menjadi perbincangan mengenai Rahman Tolleng. Salah satu pertanyaan, apakah Bung Rahman Tolleng bisa dipersamakan dengan Tan Malaka? Atau sebaliknya Tan Malaka bisa dipersamakan dengan Rahman Tolleng? Bagi Ekky, Tan Malaka maupun Bung Rahman, sama-sama orang sosialis, meski berasal dari ‘kandang ideologi’ berbeda dan juga dari kurun masa berbeda. Selain itu, Tan Malaka adalah sosialis yang marxist, sedang Rahman Tolleng memahami marxisme namun tidak marxist. Dan ketika Tan Malaka kemudian mendirikan Murba (Musyawarah Rakyat Berjuang), setelah mengoreksi dan mengeritik lalu terlempar keluar dari PKI, pada hakekatnya Tan Malaka menjadi lebih banyak persamaannya dengan mereka yang berada di Partai Sosialis Indonesia (PSI). Walau, pada sisi lain, tercatat pula bahwa kerap terjadi perbedaan pikiran, sikap dan tindakan politik antara Tan Malaka dengan pemimpin PSI Sutan Sjahrir, yang dalam beberapa peristiwa sejarah berwujud sebagai perbenturan.

RAHMAN TOLLENG. Ada suatu suasana pencarian ideologi dengan makna dan orientasi teoritis baru sebagai alternatif terhadap marxisme dan liberalisme yang dilakukan sejumlah kaum muda selama ini. Orientasi alternatif itu adalah social democracy atau demokrasi sosial. Tapi pencarian ini tentunya tidak mengurangi arti Pancasila sebagai ideologi bangsa, karena di sini bukan ideologi yang dipersoalkan, melainkan membahas orientasi ideologinya. Rahman Tolleng selalu hadir dalam beberapa tahun terakhir –hingga menghembuskan nafas terakhir Selasa dinihari 29 Januari 2019 kemarin– dan dengannya banyak orang muda bisa berhubungan, berdiskusi maupun melakukan berbagai interaksi lainnya. Banyak di antara orang-orang muda ini lalu merasa Rahman Tolleng telah menjadi suatu fenomenon. #mediakaryanalisa

Rahman Tolleng, meski tak pernah menjadi anggota PSI secara formal, adalah seorang tokoh Gemsos –Gerakan Mahasiswa Sosialis– yang senantiasa dikaitkan dengan PSI. Tapi sebenarnya, Gemsos bukan onderbouw PSI seperti halnya Gerakan Pemuda Sosialis. Tan Malaka maupun Rahman Tolleng, menurut perbincangan itu, sama-sama merupakan kaum pergerakan –sekaligus ideolog dengan gagasan-gagasan dan pemikiran yang original– yang amat lekat dengan pemikiran berdasar konsep materialisme-dialektis dan mengutamakan logika dalam sepakterjang politiknya masing-masing. Memiliki pula romantisme pergerakan bawah tanah yang sama. Dalam hal tertentu, memiliki dan menjalani misteri kehidupan yang serupa. Hanya saja, keduanya tak mudah –untuk tidak mengatakannya tak mungkin– diperbandingkan, karena mereka berada dalam dimensi waktu dan ruang yang berbeda dalam kegiatan perjuangan politik mereka. Sehingga juga memiliki posisi berbeda dalam catatan sejarah.

Rahman Tolleng sendiri samasekali tak pernah punya pretensi dan mempersamakan diri dengan Tan Malaka, meskipun ia juga mengagumi Tan Malaka yang berada dalam urutan waktu lebih awal dalam pergerakan politik. “Saya samasekali tidak bisa disamakan dengan Tan Malaka,” ujar Rahman Tolleng di tahun 2007. Tapi Rahman tidak menjelaskan apa-apa lagi lebih jauh. Dan barangkali memang tidak tepat untuk mempersamakan Rahman Tolleng dengan Tan Malaka, dari arah Rahman maupun dari arah Tan Malaka. Tetapi bagaimanapun, Rahman adalah seorang tokoh pergerakan mahasiswa (pada awalnya) yang juga telah melalui sejumlah masa yang panjang sebagai aktivis gerakan bawah tanah seperti halnya Tan Malaka.

Dalam kaitan ideologi ini, tentu menjadi menarik mengikuti catatan Marzuki Darusman seorang aktivis pergerakan mahasiswa tahun 1966 dan 1970-an, yang juga kerap menganalogikan Rahman Tolleng dengan Tan Malaka, yang untuk sebagian dapat dibaca dalam referensi tema sebuah buku mengenai Rahman Tolleng yang sejak lama saya susun namun belum kunjung rampung. Judul yang saya rencanakan adalah ‘Mimpi Buruk Politik IndonesiaKisah Rahman Tolleng, Politisi Separuh Legenda’.

Orientasi teoritis baru tentang Ideologi

Marzuki Darusman menggambarkan adanya suatu suasana pencarian ideologi dengan makna dan orientasi teoritis baru sebagai alternatif terhadap marxisme dan liberalisme yang dilakukan sejumlah kaum muda selama ini. Namun untuk sementara –khususnya dalam empat tahun terakhir ini– suasana pencarian itu seakan terbenam dalam hiruk pikuk politik yang secara kualitatif mengalami degradasi pada situasi pembelahan masyarakat yang tak masuk akal.

Ideologi alternatif dengan makna dan orientasi teoritis baru itu adalah social democracy atau demokrasi sosial. Tapi pencarian ini tentunya tidak mengurangi arti Pancasila sebagai ideologi bangsa, karena di sini bukan ideologi yang dipersoalkan, melainkan membahas orientasi ideologinya. “Tidak mengherankan bila dalam proses pencarian yang dilakukan generasi muda dan masyarakat pada suatu orientasi  teoritis yang mempunyai sifat atau corak ideologis itu, lalu ada gerak pemikiran dan analisis yang mengungkit kembali soal-soal yang berhubungan dengan masalah demokrasi sosial.”

Sebagai konsekuensi ikutannya, ini semua lalu menyebabkan juga terjadinya pencarian tokoh-tokoh yang lebih diasosiasikan dan dihubungkan dengan masalah ideologi demokrasi sosial tersebut. “Dalam batas tertentu, sosok Rahman Tolleng menjadi suatu perhatian, karena dialah satu-satunya tokoh yang masih hidup dan diketahui betul dalam segala sepak terjang perjuangannya secara terbuka menyatakan berdiri di posisi tersebut, selain tentunya Sutan Sjahrir, Tan Malaka dan yang lainnya.” Namun berbeda dengan tokoh lain yang disebutkan itu, Rahman Tolleng masih hadir, dan dalam beberapa tahun terakhir –hingga menghembuskan nafas terakhir Selasa dinihari 29 Januari 2019 kemarin– dengannya banyak orang muda bisa berhubungan, berdiskusi maupun melakukan berbagai interaksi lainnya. Banyak di antara orang-orang muda ini lalu merasa Rahman Tolleng telah menjadi suatu fenomenon.

Sesungguhnya keterkaitan Rahman Tolleng, bukan hanya dengan aspek ideologi seperti yang dipaparkan Marzuki Darusman. Sejak kedatangannya ke Pulau Jawa sebagai calon mahasiswa di tahun 1955, Rahman Tolleng ternyata memulai pula suatu keterkaitan panjang dengan berbagai peristiwa politik di Indonesia hingga tahun 1960-an, 1970-an, 1980-an hingga menjelang akhir hayatnya. Dalam setiap peristiwa politik, yang beberapa di antaranya adalah peristiwa politik yang sangat penting, nama dan keterlibatannya senantiasa disebutkan, meskipun kadangkala dalam kadar yang berbeda-beda mulai dari yang betul-betul samar-samar hingga tingkat yang amat terasa dan membayang dengan jelas jejak tangannya. (Berikutnya di media-karya.com: Rahman Tolleng dan Faktor Islam) #mediakaryaanalisa

One thought on “Rahman Tolleng, Gerakan Bawah Tanah dan Ideologi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s