Kisah Manusia dan Iblis

MANUSIA dalam bentuk kurang lebih seperti yang kita kenal sekarang, mulai ada sejak 400.000 tahun lalu. Para ilmuwan hingga sejauh ini sepakat dengan dasar-dasar teori evolusi yang dikemukakan ahli natural dari Inggeris, Charles Darwin –yang hidup di hampir tiga perempat abad ke-19. Dalam teori itu manusia ditempatkan sebagai mata rantai terbaru dalam evolusi setelah jenis primata kera. Di antara bentuk manusia modern dengan kera, terdapat manusia-manusia pra modern yang tampilannya memiliki kemiripan ke masa belakang dan ke masa depan. Meski, tetap terdapat tanda tanya, mengapa peralihan bentuk kera ke bentuk manusia waktunya terlalu ringkas dibanding peralihan di antara mata rantai evolusi sebelumnya, yakni antara organisma awal yang sederhana sampai primata kera, yang secara keseluruhan memakan waktu 3.000.000.000 tahun.

Dalam konsep agama-agama, penciptaan manusia dimulai dengan penciptaan manusia pertama Adam dan manusia kedua Hawa oleh Tuhan. Penciptaan itu terjadi pada hari keenam dalam proses penciptaan alam semesta oleh Tuhan, sedang pada hari ketujuh Tuhan ber’istirahat’ dan tak mencipta lagi. Berarti, manusia adalah ciptaan yang terakhir. Menurut para ilmuwan, usia alam semesta kini sejak awal tercipta melalui Big Bang, telah mencapai 13,7 milyar tahun, dan Planet Bumi yang kita huni telah berusia 4,6 milyar tahun. Panjang hari Tuhan dan panjang hari dalam pengertian manusia memang berbeda.

“Sepintas”, kata Arnold Toynbee, sejarawan dunia terkemuka dari Inggeris, “ungkapan pos-ilmiah dan ungkapan agama pra-ilmiah mungkin terlihat saling berlawanan”. Tak lain karena, setiap ungkapan agama masa lalu telah disesuaikan dengan pandangan intelektual terkait waktu dan tempat di mana setiap ungkapan khusus diformulasikan. “Namun, esensi agama yang menjadi latarnya, tidak diragukan lagi, sama konstannya dengan esensi watak manusia itu sendiri”. (Arnold Toynbee, ‘Mankind and Mother Earth’).

Iblis pun angkat tangan atas involusi mental manusia

Kisah paling khusus dalam proses penciptaan manusia, adalah penolakan salah satu malaikat –yang dikemudian hari oleh manusia disebut Iblis menurut versi pemeluk agama Islam, atau Lucifer menurut versi penganut ajaran Kristiani– terhadap perintah Tuhan untuk menghormati dan memuliakan manusia yang menjadi ciptaan terbaruNya. Malaikat yang menggunakan right to dissent atas ketetapan kemuliaan bagi manusia, meragukan manusia yang diciptakan dari bahan dasar tanah itu akan mampu menyandang kemuliaan yang diberikan olehNya, melebihi para mailakat yang diciptakan dengan bahan dasar api. Malaikat yang kemudian dikenal sebagai Iblis atau Lucifer tersebut, menolak perintah Tuhan yang satu ini. Ia, oleh karena itu, harus meninggalkan lingkaran satu Tuhan, tapi tak pernah dieliminasi eksistensinya olehNya. Bahkan ada perjanjian terhormat, bahwa seizin Tuhan, Iblis akan menguji manusia dari masa ke masa di sepanjang kehidupan ini. Iblis atau Lucifer pula yang diberi tugas sekaligus mengepalai neraka.

KONTRADIKSI ITIKAD BAIK MANUSIA, DALAM KARIKATUR T. SUTANTO, 1967. Dalam satu parodi, dikisahkan betapa Iblis telah kewalahan dengan involusi mental manusia. Lalu, mengajukan permohonan mengundurkan diri dari tugas menguji manusia, karena dalam beberapa kasus manusia terbukti sudah lebih iblis dari Iblis sendiri. Kebanyakan tak memiliki itikad baik lagi. Terutama dalam kehidupan politik demi kekuasaan. (Gambar lead, Pengusiran Iblis (Lucifer) dari surga dalam sebuah lukisan klasik Barat. Download Wikipedia) #MediaKarya

Ternyata pra perkiraan Iblis tentang manusia tak sepenuhnya keliru. Sepanjang sejarah umat manusia, setidaknya dalam ribuan tahun terakhir yang bisa kita ketahui, memang di antara sejumlah sifat-sifat baiknya, manusia juga telah membuktikan diri sebagai insan yang lemah penuh dengan berbagai sifat buruk. Secara kualitatif memiliki dalam dirinya sifat dengki dan iri, rakus, kejam dan keji terhadap sesama, dendam dan tak segan membunuh, kleptomania dan angkara murka. Berbohong kepada sedikit orang maupun membohongi banyak orang dalam satu negara, misalnya demi kepentingan politik dan kekuasaan seperti di Indonesia. Semoga tak melanjut sebagai model dalam kampanye Pilpres Indonesia 2019 mendatang.

Bila berkuasa dan lebih kuat secara fisik, menggunakan kekuatan untuk merepresi, menindas, menguras kekayaan alam dan negara, ‘memperbudak’ orang lain yang disebut rakyat, korup dan cenderung memperkaya diri sendiri, dan tak segan menipu publik untuk itu.

Dalam satu parodi, dikisahkan betapa Iblis telah kewalahan dengan involusi mental manusia. Lalu, mengajukan permohonan mengundurkan diri dari tugas menguji manusia, karena dalam beberapa kasus manusia terbukti sudah lebih iblis dari Iblis sendiri. Kebanyakan tak memiliki itikad baik lagi. Terutama dalam kehidupan politik demi kekuasaan. “Ya Tuhan, seringkali manusia sudah lebih keji dari kami… Kemampuan mereka memperdaya, menyebar hoax dan fitnah bahkan sudah melampaui batas imajinasi kami sendiri…”

Punya otak tapi tak bernalar

Sementara itu, mereka yang berhasil mendapat posisi dalam kekuasaan spiritual, tak segan-segan mengatasnamakan agama dan bahkan nama Tuhan, untuk memperkaya diri sendiri, ikut memperoleh dan mencicipi kenikmatan kekuasaan duniawi, termasuk mengeksploitasi manusia lain secara seksual. Tak jarang, ada yang masuk dalam kontestasi politik untuk memperebutkan kekuasaan duniawi. Dalam bentuk lain penyalahgunaan pengatasnamaan agama dan Tuhan, sekelompok manusia juga tak segan-segan melakukan terorisme terhadap apa yang mereka sebut musuh Tuhan dan agama.

Dan, secara sporadis di sana-sini sekelompok manusia dengan ‘fanatisme’ yang kadangkala tak bisa dipahami lagi, penuh pretensi menempatkan diri sebagai hakim moral terhadap manusia lain. Tapi menarik juga, bahwa pada sisi lain ada tanda-tanda meningkatnya intensitas penghujatan terhadap agama dan melakukan persekusi terhadap kalangan agama, antara lain dalam konteks kepentingan politik.

Tak mengherankan sebenarnya bila manusia kerap berkelakuan tak masuk akal. Seringkali memang manusia juga masih berperilaku bagaikan kera, punya otak tapi tak bernalar, seakan tak mampu melepas diri dari mata rantai terdekatnya dalam proses evolusi. Sebuah penelitian memperlihatkan bahwa kepemimpinan di suatu kelompok kera berjalan baik dalam skala sampai 50-an ekor. Perlu diketahui, kepemimpinan kera pemimpin bisa kacau balau bila anggota kelompok membesar sehingga wilayah lingkungan kehidupan mereka juga lebih meluas. (Diolah kembali untuk media-karya.com dari tulisan socio-politica.com) #mediakaryaanalisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s