Mengulang Sekali Lagi Pilihan The Bad Among The Worst?

DI TENGAH ‘kesibukan’ dua kubu calon presiden untuk 2019 –Joko Widodo dan Prabowo Subianto– mencari calon-calon pendamping, Susilo Bambang Yudhoyono sedang meretas jalan untuk menghadirkan tokoh ketiga sebagai alternatif memimpin negara lima tahun ke depan. Tenggat waktu yang tersedia cukup sempit, limitnya 4-10 Agustus 2014. Namun, tentu tetap tersedia waktu cukup panjang untuk melakukan sosialisasi ke tengah publik sebelum maju ke gelanggang pemilihan presiden April tahun depan.

Bila upaya Susilo Bambang Yudhoyono –atau siapa pun juga– gagal menghadirkan alternatif ketiga, Indonesia akan mengulang cerita lama hampir lima tahun silam. Dan mungkin juga, akan mengulang ketersediaan pilihan dengan kategori the bad among the worst.

Terasa tepat dalam konteks ini meminjam satu narasi socio-politica.com 7 Juni 2014, hanya tiga pekan menuju pemungutan suara Pemilihan Presiden 9 Juli kala itu. Menurut narasi itu, tampilnya ‘hanya’ dua pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden, nyaris sepenuhnya ‘berhasil’ membelah dua Indonesia pada dua bulan terakhir. Situasi akan berbeda bila yang tampil adalah 3 atau 5 pasangan misalnya, seperti yang terjadi dalam beberapa pemilihan presiden sebelumnya. Pembelahan cenderung terasa lebih tajam, lebih kontras dan lebih dramatis, karena terciptanya dua kutub dengan sendirinya melahirkan pengelompokan antara kawan dan lawan. “Dengan situasi belah dua itu, lalu terlupakan bahwa sesungguhnya masih ada kelompok ketiga dalam masyarakat, yakni yang tidak atau belum merasa berkenan terhadap dua pilihan hasil fait accompli dari sistem politik yang ada saat ini.” (https://socio-politica.com/2014/06/17/calon-presiden-indonesia-2014-pilihan-the-bad-among-the-worst/).

Begitu kuatnya perpihakan, selain di tengah masyarakat, dengan hanya sedikit pengecualian, maka pers dan sebagian kalangan intelektual, termasuk para purnawirawan TNI, ikut terbelah dalam perpihakan dengan subjektivitas yang sangat kental. Pilihan seakan-akan hanya terbuka bagi dua alternatif, atau Prabowo-Hatta atau Jokowi-JK. Bagi para pendukung pasangan nomor satu, right or wrong Prabowo-Hatta adalah segala-galanya. Begitu pula bagi para pendukung pasangan nomor dua, secara kualitatif, baik atau tidak baik, pokoknya Jokowi-JK.

SUSILO BAMBANG YUDHOYONO, PRABOWO SUBIANTO, JOKO WIDODO. Para presiden terdahulu pun ibaratnya masing-masing baru berhasil menyentuh sepotong demi sepotong keberhasilan untuk mencapai Indonesia sesuai yang diamanatkan konstitusi. Makanya perlu estafet pencapaian tujuan dari satu presiden ke presiden lain sebagai suatu akumulasi keberhasilan secara konseptual. (Foto-foto download Kompas dan sumber lain)

Seakan tak ada ruang lagi untuk objektivitas tentang kebaikan dan kelemahan atau keburukan para tokoh yang mereka dukung. Itu terjadi dalam kolom pers cetak dan jalur frekuensi siaran media elektronik, maupun dalam ulasan tokoh-tokoh partisipan yang berpredikat akademisi. Beberapa purnawirawan tentara pun tergelincir membocorkan dokumen lama yang masih bersifat rahasia untuk mendiskreditkan tokoh yang dianggap lawan, dan di lain pihak muncul pula purnawirawan yang tak kalah galak tampil menangkis. Apakah bila telah menjadi purnawirawan, sifat dan sikap ksatria bisa ditanggalkan begitu saja?

Padahal, tulis socio-politica, dalam konteks kualitas presidentship yang dibutuhkan, kedua tokoh –Prabowo Subianto dan Joko Widodo– maupun dua tokoh yang mendampingi mereka masing-masing, harus diakui masih sebatas pilihan the bad among the worst. Suatu tradisi pilihan dalam pemilihan presiden Indonesia hampir dua dekade terakhir ini. Sejauh ini, mereka yang tampil belum memperlihatkan kualitas yang betul-betul sepadan untuk posisi sebagai presiden.

Prabowo memiliki perencanaan makro yang lebih baik untuk berbagai masalah, namun minim pengetahuan dan pengalaman masalah-masalah mikro. Dengan demikian ia lebih cenderung sebagai pemimpin pembawa payung gagasan besar, katakanlah mengacu kepada model ala Soekarno presiden pertama Republik Indonesia. Soekarno adalah seorang pemimpin type solidarity maker, sedang Prabowo masih harus banyak belajar untuk bisa menjadi solidarity maker bagi bangsa ini. Kemampuan retorikanya memadai, tetapi soal pembuktian setelah retorika adalah hal lain lagi.

“Sementara itu Joko Widodo lebih banyak mengetengahkan masalah-masalah mikro, dan bila toh bicara mengenai masalah makro selalu terpaku kepada detail kecil, sehingga apa rencana besarnya tak pernah terkomunikasikan dengan baik. Pengulangan-pengulangannya tentang model keberhasilan berdasarkan pengalaman 10 tahun memimpin kota Solo dan gebrakan awalnya selama dua tahun memimpin ibukota, kapan saja dan di mana saja, lama-lama menjemukan juga. Solo itu hanya sebagian sangat kecil dari Indonesia yang kompleks. Jakarta mungkin etalase Indonesia, tapi tantangan seorang Gubernur DKI bagaimanapun beda jauh dengan tantangan memimpin Indonesia secara keseluruhan.”

Solo dan Jakarta di tangan Jokowi untuk hal tertentu mungkin sedikit banyak bisa dianggap satu contoh keberhasilan pengelolaan, katakanlah mungkin sedikit lebih baik dari kota-kota Indonesia lainnya, tetapi harus diakui bahwa Solo dan Jakarta belum sempat menjadi satu contoh keberhasilan fenomenal yang betul-betul luar biasa. Jokowi cenderung menjadi tipe manager, namun belum membuktikan diri sebagai tipe administrator menyerupai Mohammad Hatta pasangan dwitunggal  bersama Soekarno.

“Seharusnya, pemimpin Indonesia dalam perjalanan menuju masa depan, memiliki pemahaman yang mendalam tentang masalah-masalah makro dan mikro sekaligus. Kalau itu tidak ditemukan dalam satu figur, setidaknya dimiliki kepemimpinan dalam satu tim. Terlepas dari itu, sejauh ini dari mereka berdua pun belum tampil gagasan lengkap dan meyakinkan mengenai pembaharuan politik dan cara menjalankan kekuasaan yang justru merupakan kebutuhan esensial dalam menjawab tantangan masa depan Indonesia. Mungkin mereka berdua dan para pendampingnya agak lupa mengenai soal yang satu ini.”

PARA pendukung Joko Widodo per saat ini mungkin akan mengatakan bahwa tokoh pujaan mereka sudah yang terbaik di antara segala kemungkinan, terutama dengan menunjukkan keberhasilan membangun banyak infrastruktur baru. Untuk sebagian bisa diterima, dan menjadi plus point Joko Widodo selaku incumbent saat maju ke gelanggang pemilihan presiden April mendatang.

Namun ‘pengadaan’ infrastruktur secara kuantitatif –atau pembangunan fisik pada umumnya– bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan. Masih ada ‘parameter’ penilaian lainnya, yaitu aspek kualitatif dan ketepatannya berdasar skala prioritas kebutuhan ekonomi maupun kebutuhan sosial. Selain itu, masih ada tuntutan dan pertanyaan tentang keberhasilan pembangunan non fisik, khususnya pembangunan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat lahir batin. Kebutuhan lahir batin ini, terkait dengan hal-hal dasar keadilan sosial, keadilan ekonomi, dan keadilan hukum. Serta, hal-hal lain yang tak kalah pentingnya, seperti rasa aman dari gangguan kriminal, rasa aman dari ketidaktersediaan kebutuhan pokok sehari-hari, rasa aman dari gangguan gejolak harga, gangguan bencana karena kelalaian pengawasan. Rasa aman dari political disaster dan ketiadaan jaminan pasti atas hak-hak demokrasi dan hak asasi serta hak-hak lain selaku warganegara. Semua terkait kepastian hidup.

Jadi, jangan pernah menyederhanakan ukuran keberhasilan untuk Indonesia yang rumit dan kompleks ini. Para presiden terdahulu pun ibaratnya masing-masing baru berhasil menyentuh sepotong demi sepotong keberhasilan untuk mencapai Indonesia sesuai yang diamanatkan konstitusi. Makanya perlu estafet pencapaian tujuan dari satu presiden ke presiden lain sebagai suatu akumulasi keberhasilan secara konseptual. Tapi bagaimana itu mungkin, bila keadaan bangsa dan negara ini, selalu terbelah berkepanjangan seperti setidaknya dialami selama 4 tahun terakhir ini? Para calon presiden, siapa pun dia, harus tahu ini semua. Rakyat juga. Mari mencerdaskan diri saat tak ada yang bersungguh-sungguh berupaya mencerdaskan diri kita. Dimulai dengan memilih secara lebih baik…. (media-karya.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s