Tag: paranoia politik

Paranoia Politik Menuju April 2019

SADAR atau tidak, rangkaian panjang diskursus kampanye menuju 17 April 2019 telah menciptakan semacam situasi yang sangat tidak nyaman dalam kehidupan politik belakangan ini.

Surut ke masa lampau, seorang kolumnis Indonesia, pasca Soekarno menggambarkan dalam sebuah tulisannya, betapa pada tahun 1964-1965 paranoia hadir dalam kehidupan politik Indonesia. Menerpa ke arah kalangan aktivis anti Soekarno dan anti PKI. Paranoia seakan berkecamuk bagai penyakit menular akibat teror mental yang dilancarkan  PKI dan BPI (Badan Pusat Intelejen) hampir setiap saat kala itu. Tapi pada waktu yang sama, para penguasa dan partai pendukung kekuasaan  itu sendiri sebenarnya mengidap gejala paranoia atau paranoid. Ketakutan-ketakutan mereka terhadap situasi yang dihadapi, membuat mereka merasa perlu menebar teror untuk menghancurkan mental lawan politik atau para penentang. Dengan demikian mereka merasa seolah-olah bahaya telah tersingkirkan. Kini situasi seakan berulang.

Gangguan kepribadian

Paranoid adalah sebuah gangguan kepribadian yang membuat penderitanya terus menerus memiliki rasa curiga dan tak mempercayai orang lain di sekitar. Suatu gejala yang untuk sebagian juga dimiliki para penderita schizoprenia. Paranoia berasal dari bahasa Yunani. Dari segi bahasa, paranoia bisa diartikan tidak punya pikiran sehat, pikirannya bertentangan sama sekali dengan pikiran yang bijaksana, pikirannya tidak berdasar kenyataan. Singkat kata, pribadi yang dihinggapi paranoia adalah seorang yang selalu salah mengerti. Continue reading “Paranoia Politik Menuju April 2019”

Advertisements

212: Perlawanan Senyap Terhadap Ketidakadilan

BERKUMPULNYA jutaan manusia menuju satu titik dalam satu momen, 2 Desember 2018, dalam satu sikap yang tertib dan damai, bagaimanapun adalah sebuah sebuah fenomena menakjubkan. Tak pernah sebelumnya terjadi konsentrasi massa secara massive dan padat di bentangan area lebih dari satu juta meter persegi di seputar Monumen Nasional hingga rentang Jalan Merdeka Barat-Thamrin dan beberapa jalan lain di sekitarnya. Tak ada kekerasan, melainkan sikap santun yang adab, dan tak menyisakan sampah maupun kerusakan rumput dan tetumbuhan. Selesai tepat menjelang tengah hari sesuai batas waktu yang diperjanjikan dengan aparat keamanan dan ketertiban.

Sikap para bhayangkara kepolisian dan prajurit TNI tak kalah menakjubkan. Ramah dan tak menampilkan sikap dominan represif. Bahkan sejumlah prajurit TNI membagikan ransum makan mereka kepada sejumlah massa pengunjung, sehingga bahkan memunculkan pertanyaan seorang anggota masyarakat, “Lalu, bapak sendiri nanti makan apa?”. Ini mengingatkan kepada sikap sebagian prajurit pengamanan di tahun 1966 di tengah kegarangan rezim ketika menghadapi mahasiswa peserta demonstrasi. Continue reading “212: Perlawanan Senyap Terhadap Ketidakadilan”