Tag: TNI

Menuju Paralysis Politik dan Demokrasi Indonesia

BUKAN hanya tubuh manusia yang bisa terkena paralysis atau kelumpuhan. Kehilangan fungsi otot dan kehilangan kepekaan terhadap sensasi. Kelumpuhan itu bisa disebabkan oleh cedera atau penyakit yang mempengaruhi sistem saraf. Dalam satu metafora, tubuh politik dan demokrasi pun bisa terserang paralysis. Terjadi disfungsi infrastruktur politik. Tercipta degradasi dalam kehidupan politik dan demokrasi, berupa mati rasa terhadap nilai kebenaran dan ideal dari kegiatan berpolitik berdemokrasi.

Meminjam cara penguraian dunia medis, kelumpuhan politik dan demokrasi itu, bisa disebabkan oleh setidaknya empat picu sebab.

Menelusur empat sebab

Pertama, faktor eksternal berupa bekerjanya ‘zat-zat’ dan kepentingan ‘asing’ maupun ‘vested interest’ ekonomi –yang kerap berkolusi dengan kekuasaan– dengan daya rusak terhadap tubuh politik dan demokrasi. Continue reading “Menuju Paralysis Politik dan Demokrasi Indonesia”

Advertisements

‘Catatan Sejarah’ Sebagai Senjata (dan Bumerang) Politik

KARENA melontarkan kritik tentang pengkhianatan elite terhadap rakyatnya (11/10) Calon Presiden 02 Prabowo Subianto mendapat serangan balik terkait sejarah diri maupun keluarganya. Padahal, Prabowo tidak spesifik menunjuk siapa yang dimaksud, bahkan ia menegaskan fenomena itu sudah berlangsung puluhan tahun. Dan suara serupa sudah lazim disampaikan para aktivis gerakan kritis. Di forum yang sama –Rakernas Lembaga Dakwah Islamiah Indonesia– hampir bersamaan waktu, Calon Presiden 01 Joko Widodo harus menangkis sejarah tentang diri dan keluarganya terkait tuduhan keterlibatan dengan PKI.

Serangan balik terhadap Prabowo datang dari Muhammad Misbakhun seorang kader PKS yang sejak 2013 pindah ke Partai Golkar. Misbakhun meninggalkan PKS ketika partai tak kunjung merehabilitir dirinya meski lolos dari kasus LC fiktif melalui keputusan Mahkamah Agung. Misbakhun menyebut justru Prabowo Subianto yang pernah dipecat dari TNI oleh Dewan Kehormatan Militer. Continue reading “‘Catatan Sejarah’ Sebagai Senjata (dan Bumerang) Politik”